Senin, 04 April 2016

Metamorfosis Kapital dan Ketidakadilan

Dalam sebuah kesempatan browsing kami menemukan sebuah artikel yang sangat menarik kaitanya dengan metamorfosis hukum kapital yang melanda dunia. semoga bermanfaat.


Dalam Capital volume 1, Karl Marx telah mengemukakan konsep surplus value, yakni nilai yang dihasilkan tenaga kerja yang nilainya jauh lebih besar dari pada upah yang dibayarkan. Surplus value ini diambil oleh pemilik alat produksi untuk menambah modal dan memperbesar produksi.
Marx telah memaparkan dengan detail bagaimana proses produksi sangat tergantung pada tenaga kerja. Dalam sistem kapitalis, tenaga kerja merupakan buruh-buruh privat yang tergantung sepenuhnya pada pemilik alat produksi. Dalam kondisi seperti ini, pemilik produksi bisa memaksa buruh untuk menggunakan tenaganya secara maksimal dan  menghasilkan barang produksi semaksimal mungkin. Dengan membuat buruh bekerja maksimal, pemilik alat produksi akan semakin banyak mendapatkan surplus value, yang itu artinya semakin besar akumulasi kapital yang dimiliki. Akan tetapi, akumulasi kapital hanya akan bisa terjadi jika seluruh hasil produksi bisa terjual di pasar. Hasil produksi yang terjual di pasar akan kembali menjadi uang, bahan mentah dan alat-alat produksi yang sifatnya konstan, seperti tanah atau bangunan. Proses sirkulasi hingga menjadi modal dan alat produksi baru ini yang menjadi bahasan utama dalam Capital volume 2.
Marx menyebut proses sirkulasi ini sebagai metamorfosis kapital (metamorphosis of capital). 
Marx menganalogikan perjalanan kapital sebagaimana perjalanan larva hingga menjadi kupu-kupu, kemudian kembali menghasilkan larva dan kembali bermetamorfosis hingga menjadi kupu-kupu. Sebagaimana metamorfosis kupu-kupu, sirkulasi kapital adalah sebuah perjalanan melingkar yang tak pernah putus, dan akan terus diulang. Kapital  menghasilkan barang produksi, barang produksi dijual ke pasar lalu kembali menjadi kapital. Marx menyebut ada tiga bentuk kapital, yaitu uang, alat produksi, dan komoditas kapital  yang tak lain adalah surplus value yang dihasilkan tenaga kerja.
Untuk menghasilkan keuntungan dan akumulasi kapital sebanyak-banyaknya, pemilik alat produksi memaksa tenaga kerja untuk berproduksi sebanyak-banyaknya. Kondisi ini yang kemudian menurut Marx menghakibatkan apa yang disebut over produksi. Jika hasil produksi  melebihi kemampuan pasar untuk membeli, sirkulasi kapital tidak akan berjalan. Pemilik alat  produksi tidak akan mendapat keuntungan dan akumulasi kapital dari proses produksinya. Surplus value hanya bisa diperoleh jika hasil produksi seluruhnya terjual di pasar. Keadaan seperti ini akan menyebabkan terjadinya krisis.
“ It is a pure tautology to say that crises are provoked by a lack of effective demand or  effective consumption.” (Capital Vol 2, hal: 486).
Over produksi akhirnya berdampak pada tenaga kerja. Upah tenaga kerja sebagai salah satu komponen faktor produksi dianggap menjadi beban. Akibatnya, terjadi pengurangan tenaga kerja. Sebagian buruh dikeluarkan dari proses produksi, yang itu artinya kesenjangan dan ketidakadilan semakin terus berjalan, bahkan dengan bertambah kejam.
Lingkaran Ketidakadilan
Teori-teori Marx tentang surplus value, sirkulasi kapital, dan over produksi menunjukkan bagaimana proses produksi terbangun oleh relasi-relasi sosial. Terdapat tiga relasi yang oleh Marx disebut sebagai trinity formula. Yakni relasi kapital – keuntungan, lahan – uang sewa, dan buruh – upah.
“Capital is not a thing, it is a definite social relation of production pertaining to a particular historical social formation” (Capital Vol 3, hal: 953).
“We have seen how the capitalist process of production is a historically specific form of the social production process in general.  This last is both a production process of the material conditions of existence for human life, and a process, proceeding in specific economic and historical relations of production” (hal: 957).
Untuk mempertahankan relasi sosial tersebut, sistem kapitalis harus tetap mempertahankan tiga lapisan kelas dalam masyarakat. Tiga lapisan kelas itu adalah kelas kapitalis, kelas pemilik lahan, kelas pekerja (hal: 960). Alat produksi akan tetap dikuasai kaum borjuis yang terdiri dari para kapitalis dan pemilik tanah, sementara buruh selamanya akan tetap jadi proletar.
Dalam menghasilkan konsep surplus value, Marx menunjukkan bagaimana buruh mendapat upah jauh lebih rendah dibanding nilai yang sebenarnya mereka hasilkan. Proses produksi hanya akan membuat buruh terus bekerja untuk pemilik alat produksi dan menghasilkan barang yang bukan milik buruh itu sendiri. Ini yang disebut Marx sebagai alienasi.
Proses sirkulasi kapital dengan memperdagangkan barang yang dihasilkan juga tak berbeda dengan proses produksi  itu sendiri.
“The transformation of surplus value into profit is, as we saw, just as much determined by the circulation process as by the the process of production. Surplus value in the form of profit is no longer related to the portion of capital laid out on labour, which is where it derives from, but rather to the total capital.” (hal: 967).
Sistem kapitalis yang mempertahankan tiga kelas dalam masyarakat selamanya hanya akan menciptakan ketidakadilan. Seiring proses metamorfosis kapital hingga kembali ke bentuk kapital lagi dan kembali bersirkulasi lagi, sepanjang itulah ketidakadilan terus berjalan. Perlawanan pada sistem kapitalis untuk merebut alat produksi dan menghilangkan perbedaan kelas dalam masyarakat adalah satu-satunya jawaban. Alat produksi harus dikuasai secara kolektif dan proses produksi merupakan kegiatan bersama-sama untuk dimiliki bersama. Hanya dalam kondisi seperti inilah kebebasan dan keadilan bisa diwujudkan.
“Freedom, in this sphere, can consist only in this, that socialized man, the associated producers, govern the human metabolism with nature in a rational way, bringing it under their collective control instead of being dominated by it as a blind power; accomplishing it with the least expenditure of energy and in conditions most worthy and appropriate for their human nature.” (hal: 959).

Revolusi bagi Marx adalah satu-satunya cara untuk melawan kapitalisme. Segala bentuk perubahan tanpa mengubah lapisan kelas, bagi Marx tak berarti apa-apa. Revolusi hanya bisa terjadi jika ada kesadaran kelas. Masalahnya, seperti yang sejak awal diperingatkan Marx, kelas pekerja telah dikuasai oleh kesadaran palsu. Kesadaran kelas untuk melakukan revolusi tersingkir oleh ilusi-ilusi kenikmatan upah dan rasa memiliki pada apa yang didapatkan. Kaum kapitalis pun terus melakukan perubahan dan penyesuaian yang semakin membuai kelas pekerja dalam kesadaran palsu dan menjauhkan revolusi untuk selamanya. Penetapan upah minimum, pemberian saham, dan ruang untuk bernegosiasi adalah bentuk-bentuk kesadaran palsu yang paling terkini. Maka tak heran jika sampai kini kapitalisme terus bertahan bahkan semakin menguat, dan ketidakadilan pun terus berjalan.
Oleh: Okky Madasari
sumber: https://indososio.wordpress.com/2012/10/10/metamorfosis-kapital-dan-ketidakadilan

Metamorfosis

Metamorfosis adalah suatu proses perkembangan biologi pada hewan yang melibatkan perubahan penampilan fisik dan/atau struktur setelah kelahiran atau penetasan. (Wikipedia)

Dari proses metamorfosis dapat diambil nilai bahwa keindahan (Kupu - Kupu) & kesempurnaan (Katak, Belalang, Capung, Nyamuk, dll) diperoleh melalui proses panjang yang membutuhkan kesabaran. Nilai ini yang rata - rata dipahami oleh para penganut/pemikir ajaran filosofi alam. 

Dalam kesempatan ini, kami mencoba memaknai proses metamorfosis dengan makna yang lain dalam rangka memperkaya tafsir akan kejadian alam yang bernama METAMORFOSIS.

Metamorfosis kupu-kupu dimulai dari Ulat. Ulat adalah Hewan yang kerjaannya hanyalah makan, ini dilakuan memang karena tugas dia adalah makan. bayangkan jika ulat main musik. bernyanyi atau mungkin hanya berjalan-jalan menikmati keindahan alam. apakah mampu dia melakukan tahap metamorfosis yang selanjutnya? Yang diharuskan adalah makan, makan, & makan, walau tanpa tahu untuk apa makanan ini akan digunakan.

Setelah ulat memenuhi kewajibannya. dan cukuplah bekal untuk melakukan ritual yang selanjutnya, kemudian juga dia selamat dari predator. maka ulat akan menjadi kepompong. Dalam fase ini ulat mengupayakan apa yang telah dimiliki (ini berkaitan dengan seberapa banyak ulat makan, semakin banyak makan, maka semakin siaplah untuk mengubah diri menjadi kepompong) untuk membentuk/mengubah diri menjadi kepompong. jadi keberhasilan dalam fase ini akan tergantung kesiapan ulat dalam hal ini apakah memenuhi kewajibannya untuk mengumpulkan bekal. 

Setelah menjadi kepompong dalam waktu tertentu, kemudian keluarlah kupu-kupu, hewan yang berbeda dengan asalnya (ulat). Bisa Terbang, Indah warnanya, Madu makanannya,

- kupu-kupu berasal dari ulat, maka lihatlah ulat sebagai calon keindahan kupu-kupu (lihatlah setiap apapun yang kurang menyenangkan bagi kita adalah cikal bakal untuk keindahan yang akan ada -yang kalau beruntung kita akan bisa melihatnya)
-lakukan kebaikan apapun yang harus dilakukan saat ini sebaik-baiknya, tanpa harus mengetahui manfaat yang akan muncul dikemudian hari, seperti ulat yang terus saja makan tanpa harus tau bahwa itu akan berguna untuk proses selanjutnya. karena sudah ada yang mempersiapkan keadaan kita dimasa datang.



sumber: disarikan dari berbagai sumber