Dalam Capital volume 1, Karl Marx telah mengemukakan
konsep surplus value, yakni nilai yang dihasilkan tenaga kerja yang nilainya
jauh lebih besar dari pada upah yang dibayarkan. Surplus value ini diambil oleh pemilik alat produksi untuk menambah
modal dan memperbesar produksi.
Marx telah memaparkan dengan detail bagaimana
proses produksi sangat tergantung pada tenaga kerja. Dalam sistem kapitalis,
tenaga kerja merupakan buruh-buruh privat yang tergantung sepenuhnya pada
pemilik alat produksi. Dalam kondisi seperti ini, pemilik produksi bisa memaksa
buruh untuk menggunakan tenaganya secara maksimal dan menghasilkan barang
produksi semaksimal mungkin. Dengan membuat buruh bekerja maksimal, pemilik alat
produksi akan semakin banyak mendapatkan surplus value, yang itu artinya semakin besar akumulasi kapital yang
dimiliki. Akan tetapi, akumulasi kapital hanya akan bisa terjadi jika seluruh
hasil produksi bisa terjual di pasar. Hasil produksi yang terjual di pasar akan
kembali menjadi uang, bahan mentah dan alat-alat produksi yang sifatnya
konstan, seperti tanah atau bangunan. Proses sirkulasi hingga menjadi modal dan
alat produksi baru ini yang menjadi bahasan utama dalam Capital volume 2.
Marx menyebut proses sirkulasi ini sebagai
metamorfosis kapital (metamorphosis of capital).
Marx menganalogikan perjalanan kapital sebagaimana
perjalanan larva hingga menjadi kupu-kupu, kemudian kembali menghasilkan larva
dan kembali bermetamorfosis hingga menjadi kupu-kupu. Sebagaimana metamorfosis
kupu-kupu, sirkulasi kapital adalah sebuah perjalanan melingkar yang tak pernah
putus, dan akan terus diulang. Kapital menghasilkan barang produksi,
barang produksi dijual ke pasar lalu kembali menjadi kapital. Marx menyebut ada
tiga bentuk kapital, yaitu uang, alat produksi, dan komoditas kapital
yang tak lain adalah surplus value yang dihasilkan tenaga kerja.
Untuk menghasilkan keuntungan dan akumulasi
kapital sebanyak-banyaknya, pemilik alat produksi memaksa tenaga kerja untuk
berproduksi sebanyak-banyaknya. Kondisi ini yang kemudian menurut Marx
menghakibatkan apa yang disebut over produksi. Jika hasil produksi
melebihi kemampuan pasar untuk membeli, sirkulasi kapital tidak akan berjalan.
Pemilik alat produksi tidak akan mendapat keuntungan dan akumulasi
kapital dari proses produksinya. Surplus value hanya bisa diperoleh jika hasil produksi seluruhnya
terjual di pasar. Keadaan seperti ini akan menyebabkan terjadinya krisis.
“ It is a pure tautology to say that crises are
provoked by a lack of effective demand or effective consumption.” (Capital Vol 2, hal: 486).
Over produksi akhirnya berdampak pada tenaga kerja. Upah
tenaga kerja sebagai salah satu komponen faktor produksi dianggap menjadi
beban. Akibatnya, terjadi pengurangan tenaga kerja. Sebagian buruh dikeluarkan
dari proses produksi, yang itu artinya kesenjangan dan ketidakadilan semakin
terus berjalan, bahkan dengan bertambah kejam.
Lingkaran Ketidakadilan
Teori-teori Marx tentang surplus value,
sirkulasi kapital, dan over produksi menunjukkan bagaimana proses produksi
terbangun oleh relasi-relasi sosial. Terdapat tiga relasi yang oleh Marx
disebut sebagai trinity formula. Yakni relasi kapital – keuntungan, lahan – uang sewa,
dan buruh – upah.
“Capital is not a thing, it is a definite
social relation of production pertaining to a particular historical social
formation” (Capital Vol 3, hal: 953).
“We have seen how the capitalist process of
production is a historically specific form of the social production process in
general. This last is both a production process of the material
conditions of existence for human life, and a process, proceeding in specific
economic and historical relations of production” (hal: 957).
Untuk mempertahankan relasi sosial tersebut, sistem
kapitalis harus tetap mempertahankan tiga lapisan kelas dalam masyarakat. Tiga
lapisan kelas itu adalah kelas kapitalis, kelas pemilik lahan, kelas pekerja
(hal: 960). Alat produksi akan tetap dikuasai kaum borjuis yang terdiri dari
para kapitalis dan pemilik tanah, sementara buruh selamanya akan tetap jadi
proletar.
Dalam menghasilkan konsep surplus value, Marx menunjukkan bagaimana buruh mendapat upah jauh
lebih rendah dibanding nilai yang sebenarnya mereka hasilkan. Proses produksi
hanya akan membuat buruh terus bekerja untuk pemilik alat produksi dan
menghasilkan barang yang bukan milik buruh itu sendiri. Ini yang disebut Marx
sebagai alienasi.
Proses sirkulasi kapital dengan memperdagangkan barang
yang dihasilkan juga tak berbeda dengan proses produksi itu sendiri.
“The transformation of surplus value into
profit is, as we saw, just as much determined by the circulation process as by
the the process of production. Surplus value in the form of profit is no longer
related to the portion of capital laid out on labour, which is where it derives
from, but rather to the total capital.” (hal:
967).
Sistem kapitalis yang mempertahankan tiga kelas dalam
masyarakat selamanya hanya akan menciptakan ketidakadilan. Seiring proses
metamorfosis kapital hingga kembali ke bentuk kapital lagi dan kembali
bersirkulasi lagi, sepanjang itulah ketidakadilan terus berjalan. Perlawanan
pada sistem kapitalis untuk merebut alat produksi dan menghilangkan perbedaan
kelas dalam masyarakat adalah satu-satunya jawaban. Alat produksi harus
dikuasai secara kolektif dan proses produksi merupakan kegiatan bersama-sama
untuk dimiliki bersama. Hanya dalam kondisi seperti inilah kebebasan dan
keadilan bisa diwujudkan.
“Freedom, in this sphere, can consist only in
this, that socialized man, the associated producers, govern the human
metabolism with nature in a rational way, bringing it under their collective
control instead of being dominated by it as a blind power; accomplishing it
with the least expenditure of energy and in conditions most worthy and
appropriate for their human nature.” (hal:
959).
Revolusi bagi Marx adalah satu-satunya cara untuk melawan
kapitalisme. Segala bentuk perubahan tanpa mengubah lapisan kelas, bagi Marx
tak berarti apa-apa. Revolusi hanya bisa terjadi jika ada kesadaran kelas.
Masalahnya, seperti yang sejak awal diperingatkan Marx, kelas pekerja telah
dikuasai oleh kesadaran palsu. Kesadaran kelas untuk melakukan revolusi
tersingkir oleh ilusi-ilusi kenikmatan upah dan rasa memiliki pada apa yang
didapatkan. Kaum kapitalis pun terus melakukan perubahan dan penyesuaian yang
semakin membuai kelas pekerja dalam kesadaran palsu dan menjauhkan revolusi
untuk selamanya. Penetapan upah minimum, pemberian saham, dan ruang untuk
bernegosiasi adalah bentuk-bentuk kesadaran palsu yang paling terkini. Maka tak
heran jika sampai kini kapitalisme terus bertahan bahkan semakin menguat, dan
ketidakadilan pun terus berjalan.
Oleh: Okky Madasari
sumber: https://indososio.wordpress.com/2012/10/10/metamorfosis-kapital-dan-ketidakadilan
